2 Mata 1 Cinta
Inspired by Sernanda Fitrania
Inspired by Sernanda Fitrania
Pagi itu
aku tercengan. Ya, melihat sebuah paras menawan dari salah satu siswi
disekolahku yang famous. Namanya Sernanda
Fitrania yang sering disapa “Sernanda” oleh teman-temannya dan siswa-siswi
lain.
Dari kejauhan, aku terus menatapnya. Entah nampaknya dia sadar ketika aku sedang memperhatikannya, seketika ia melemparkan tatapannya padaku. Karna takut ia berpikir macam-macam, aku pun membuang tatapanku padanya dan bergegas menuju kelas.
“Gila, Sernanda makin hari makin beautiful aja ya. Apalagi lesung pipinya” Ucapku pada Rio teman semejaku.
“Iya emang. Makin beautiful dan makin sulit dicuri hatinya.” Balas Rio.
“Maksud lu apaan, Yo ?” Tanyaku.
“Nggak sadar lu kalau hampir satu sekolah murid cowok ngejar-ngejar dia ? Lu bisa apa Wing ? Nulis fanfict, main gitar sama main bola doang hahaha.” Balasnya lagi tertawa.
“Dari pada elu nggak bisa ngapai-ngapain.” Cetusku balik mengejekknya.
Obrolan singkat kami akhirnya terhenti saat guru pelajaran itu masuk. Selama jam pelajaran, pikiranku terus tertuju pada Sernanda. Berpikir bagaimana caranya dapatkan hatinya.
Saat jam istirahat tiba, aku melangkahkan kaki ku menuju gedung serba guna bermaksud untuk latihan band sejenak sebelum tampil saat malam pentas seni yang akan digelar 3 hari lagi tepat sabtu malam di aula sekolah.
Dari kejauhan, aku terus menatapnya. Entah nampaknya dia sadar ketika aku sedang memperhatikannya, seketika ia melemparkan tatapannya padaku. Karna takut ia berpikir macam-macam, aku pun membuang tatapanku padanya dan bergegas menuju kelas.
“Gila, Sernanda makin hari makin beautiful aja ya. Apalagi lesung pipinya” Ucapku pada Rio teman semejaku.
“Iya emang. Makin beautiful dan makin sulit dicuri hatinya.” Balas Rio.
“Maksud lu apaan, Yo ?” Tanyaku.
“Nggak sadar lu kalau hampir satu sekolah murid cowok ngejar-ngejar dia ? Lu bisa apa Wing ? Nulis fanfict, main gitar sama main bola doang hahaha.” Balasnya lagi tertawa.
“Dari pada elu nggak bisa ngapai-ngapain.” Cetusku balik mengejekknya.
Obrolan singkat kami akhirnya terhenti saat guru pelajaran itu masuk. Selama jam pelajaran, pikiranku terus tertuju pada Sernanda. Berpikir bagaimana caranya dapatkan hatinya.
Saat jam istirahat tiba, aku melangkahkan kaki ku menuju gedung serba guna bermaksud untuk latihan band sejenak sebelum tampil saat malam pentas seni yang akan digelar 3 hari lagi tepat sabtu malam di aula sekolah.
Ketika
hendak mengambil gitar, aku melihat siswi yang tak asing bagiku, ya dia
Sernanda yang sedang duduk dipojokan gedung serba guna layaknya memperhatikan
anak-anak sedang latihan. Dengan rasa yang lumayan takut, aku pun
menghampirinya.
“Sernanda, ya ?” Tegurku saat ia sedang memperhatikan teman-teman band-ku latihan.
“Eh ada yang negur. Iya, pasti kamu Edwin kan ?” Balasnya dan sedikit membuatku heran. Heran karna dia bisa tau namaku.
“I-iya. Kamu tau namaku dari mana, Ser ?” Tanyaku heran.
“Oh itu tadi temen-temen kamu pada bilang “Edwin mana?” gitu. Eh pas kamu datang mereka negur kamu, kan ?” Terangnya dan membuatku sadar darimana ia tau namaku.
“Oke deh. By the way kamu ngapain disini ?” Ucapku mengakrabkan suasana.
“Lagi liat anak-anak band latihan aja. Aku suka aja liat band-band gitu nampil hehe.” Balasnya dan membuatku tersenyum malu seketika. Bagaiamana mungkin Sernanda suka sama penambilan sebuah band. Apalagi dengan aku yang bisa memainkan alat musik gitar.
“Kok senyum-senyum, Win ?” Tegrurnya ketika aku sedang memikirkan dia yang suka dengan penampilan sebuah band.
“Eh enggak kok hehe. Yaudah aku latihan dulu ya, Ser.” Ujarku dan melemparkan sebuah senyuman.
“Oke deh. Semangat ya !” Balasnya lalu mengacungkan jari jempol padaku.
Aku dan anak-anak band lainnya mulai latihan. Tak bisa ku pungkiri aku mulai curi-curi pandang untuk menatap Sernanda yang kebetulan juga ada digedung serba guna saat itu.
Teman-temanku memperhatikanku yang selalu tersenyum saat latihan itu. Tak seperti biasanya aku selalu tersenyum saat latihan. Erik pun mengikuti pandanganku yang tertuju pada Sernanda, dan dengan kaget menegurku,
“Woy ! Ngapain senyum-senyum ? Kayaknya ada yang jatuh cinta nih hahaha.” Ledek Erik dan aku langsung membuang pandanganku yang saat itu tertuju pada Sernanda.
“Sernanda ! Dari tadi Edwin ngeliatin kamu terus lho !” Putra pun buka suara mendukung Erik meledekku.
“Eh apaan sih. Kalian malah buat orang ilfeel aja tau nggak.” Ucapku kesal.
“Dari tadi aku perhatiin, sesekali dia juga merhatikan kamu pas lagi main gitar lho, Win.” Celetus bisik Fira padaku.
“Maksud lu apaan ?” Tanyaku.
“Iya. Dari tadi juga Sernanda sempet-sempetin ngeliatin kamu pas lagi main gitar. Ya tanpa sepengetahuanmu.” Tambah Fira.
Aku mulai tersenyum-senyum malu. Saat selesai latihan, Sernanda bertepuk tangan karna melihat penampilan band kami saat latihan. Ku lihat ia bergegas keluar gedung serba guna. Aku pun mencoba menghampirinya sebelum ia keluar gedung.
“Sernanda !” Panggilku saat ia dilorong keluar gedung.
“Iya ? Kenapa, Win ?” Tanya nya dan memutar balikkan kepala dan menghentikan langkahnya.
“Malam pentas seni nanti, ka-kamu nonton, kan ?” Tanyaku balik.
“Pertanyaan kamu retoris banget hehe. Iyaa nonton kok.” Balasnya tersenyum.
“Eh mampus dah ! Itu senyum manusia ?!” Gumamku dalam hati ketika Sernanda melemparkanku senyuman itu.
“Hm oke deh Ser. Oh iya, sore sibuk nggak ? Nonton yuk ?” Ajakku padanya saat itu. Aku tau, aku belum akrab dengannya. Namun dengan cara ini aku mencoba mengakrabkan diri, dan mencoba meraih hati kecil Sernanda.
“Boleh boleh.” Ucapnya menerima ajakkanku dan membuatku sangat senang saat itu.
“Oke deh Ser. Sore ku jemput, ya.” Balasku dan berbalik menghampiri teman-temanku.
Tak lama kemudian ia hanya tertawa kecil. Aku melihatnya yang sedang tertawa. Tak ada hal aneh yang kurasa saat berbicara dengannya. Kulihat pakaian yang ku kenakan pun tak ada yang salah. Sampai akhirnya ia menegurku.
“Kamu lucu ya. Kamu mau jemput aku di mana ? Emang tau rumahku ? Hihihi.” Tegurnya dan membuatku tersenyum bodoh.
Akhirnya Sernanda memberiku alamat rumahnya. Setelah usai, ia pun berbalik lagi menuju keluar gedung serba guna, dan sedikit melemparkan sebuah senyum kecil padaku dan sangat membuatku bahagia.
Aku kembali mengampiri teman-teman band-ku. Terus tersenyum dengan sikap baik Sernanda dan kemaunnya untuk ku ajak nonton sore nanti. Aku duduk sambil mulai memainkan gitar dengan senyum lebar membayangkan Sernanda. Hingga tak lama Putra menegurku lagi.
“Senyum-senyum terus kayak orang gila. Hati-hati kesambet setan lu Wing.” Tegur Putra.
“Emang ada apaan sih ? Kok lu ketawa-ketawa Wing ?” Tanya Fira.
“Sernanda terima ajakkan gue cuy buat nonton sore nanti hahaha. Sumpah bahagia banget gue.” Terangku memberikan alasan mengapa aku selalu tersneyum ketika usai menghampiri Sernanda.
“Idih ! Jadi ceritanya ada yang mau ngedate nih hahaha.” Ledek Akbar.
“Dah ah bodo. Gue balik ke kelas duluan ya.” Ucapku lalu berbalik menuju kelas.
Saat tiba dikelas aku kembali memikirkan senyum manis Sernanda, apalagi tatapan matanya yang begitu subhanallah dimataku. Ketika usai dengan aktifitas sekolah, aku pun bergegas pulang.
Setiba dirumah, aku bersitriahat sejenak. Hingga tiba pukul 14.30 aku bersiap untuk menjemput Sernanda. Tak bisa ku pungkiri, saat itu pakaian yang ku kenakan amat rapih. Ketika siap, aku berpamitan sejenak dengan orang tuaku.
“Mau kemana, Wing ?” Tanya ibuku.
“Mau jalan dulu ya mah, sama teman hehe.” Balasku tersenyum.
“Bohong tante ! Hahaha” Terdengae seperti suara teman-temanku yang ternyata ada diruang tamu.
“Ssttt ! Kalian ngapain ?!” Tegur kerasku.
“Mau jalan sama Sernanda kan ? Kita ikut dong ! Hahaha.” Balas Suta.
“Sernanda ? Pacar kamu, Wing ?” Ledek ibuku.
“Bukan kok mah. Cuma teman sekolah aja.” Ujarku tersipu malu.
“Iya deh iya. Hati-hati dijalan ya.” Ucap ibuku dan aku bergegas menjemput Sernanda.
“Ingat ya, jaga jarak waktu gue jalan sama Sernanda. Jangan rusak suasana kalau ngga mau itu muka ikut rusak juga !” Tegasku pada teman-temanku di ruang tamu.
“Garang amat si bos kiting hahaha. Iya gampang aja. Yuk cus !” Balas Rio.
Sampai akhirnya aku berangkat menjemput Sernanda. Perjalanan cukup jauh, aku pun tiba didepan rumahnya. Dari depan aku melihat Sernanda bak bidadari kayangan yang memijakkan kakinya ke bumi ini.
“Hey, kenapa bengong ?” Tegurnya yang tiba-tiba sudah ada dihadapanku.
“Astagfirullah. Eh nggak apa kok. Udah siap ? Yuk jalan hehehe.” Balasku terkejut.
Sernanda pun naik disepeda motorku. Kami bergegas menuju mall yang ingin kita tuju. Untungnya sepulang sekolah tadi aku sudah sempat membooking tiket untuk nonton bersamanya.
Sampai dimall, kami menuju lantai 5 dimana bioskop berada. Sebelumnya aku menemani Sernanda ke toko aksesoris yang berada dilantai 2. Tak lama menunggu, panggilan untuk film yang kami ingin nonton pun tiba. Sebuah film yang bergenre romance.
Entah mengapa aku menikmati alur cerita film ini. Terlebih saat masuk pertengahan film, Sernanda merebahkan pundaknya dibahuku dan hanya mampu membuatku tersenyum sambil berbisik dalam hati,
“Kalaupun nanti kamu jadi milikki, percayalah aku ngga bakal ninggalin kamu. Terima kasih sudah masuk dalam kehidupanku walau aku sendiri pun nggak tau apa kamu tercipta untukku atau bukan.”
Selesai menonton aku mencoba mengajaknya untuk ke salah satu bukit indah tempat favorit ku biasanya menghabiskan waktu untuk bersantai dan menenangkan pikiranku saat ada masalah yang harus ku hadapi.
“Ser, kamu pengen buru-buru pulang nggak ? Ke bukit favorit aku yuk ? Mau nggak ?” Ajakku sambil merasa deg-degan.
“Hm boleh juga tuh. Nggak kok, aku nggak lagi pengen pulang cepat juga hehehe.” Balasnya tersenyum sambil menerima ajakkanku ke bukit.
Tanpa basa-basi, aku dan Sernanda pun bergegas menuju bukit. Perjalanan sangat jauh, kulihat Sernanda tertidur dipundakku dan hanya mampu membuatku tersenyum. Ketika sampai, perlahan aku pun mencoba membangunkannya.
“Hey, kita udah sampai nih.” Ucapku mengelus kepalanya saat tiba dibukit.
“Wah maaf ya Win aku ketiduran.” Balasnya tergesah sambil mencuri waktu memperbaiki rambutnya.
“Udah nggak apa kok. Yuk naik ke atas.” Ajakku sambil tersenyum.
“Ih aku takut. Tinggi banget.” Ucapnya khawatir.
“Sini deh aku gendong.” Ujarku dan langsung mengangkatnya dibelakang pundakku.
Berat rasanya, tapi ketika aku melihat senyum manis dan mata indahnya, capek itu seperti mati rasa. Sesekali ia menunjukkan padaku betapa indahnya bukit yang kini ia lihat. Sebuah bukti tempatku biasanya bersantai ria.
“Kita sudah sampai.” Ucapku dan menurunkannya ketika sampai diatas bukit.
“Keren banget pemandangannya.” Cetusnya sambil melihat pemandangan disekitar.
“Duduk dulu yuk.” Ujarku dan duduk di ikut sertai Sernanda yang juga duduk disebelahku.
“Ini tempat favorit kamu, Win ?” Tanya Sernanda.
“Iya Ser. Indah kan ? Kaya mata kamu hehehe.” Balasku dengan sedikit rasa gombal.
“Gombal ih hahaha. Iya indah banget ya. Kenapa kamu suka sama tempat ini ?” Tanya nya lagi.
“Kenapa ya ? Tempat ini tenang aja gitu buat aku. Pemandangannya indah aja. Kalau aku ada masalah, aku selalu kesini Ser. Nggak tau kenapa saat ada masalah dan aku ke tempat ini, seakan-akan masalah itu udah hilang. Sedih pun aku kesini, tempat ini seolah-olah ngehilangi kesedihan aku tanpa sebuah alasan.” Terangku.
“Baru kali ini lho ada yang mau ajak aku ke bukit seindah ini hehehe.” Ucapnya memejamkan mata sambil merunduk.
“Ser, kamu mau nggak janji sama aku ? Kalau suatu saat nanti kita udah ga bisa sama-sama, tempat ini harus jadi tempat dimana kita saling mengadu saat rindu. Kamu juga janji, suatu saat kalaupun aku sudah nggak bisa melihat, kamu bawa aku kesini ya. Aku tau kalau nanti udah nggak bisa melihatpun, tapi kalau aku kesini sama kamu, aku bisa rasain dunia itu ku tatap dengan jelas, tapi balik lagi dengan satu syarat. Harus sama kamu.” Ucapku dan menatap matanya.
“Kenapa harus sama aku ?” Tanya nya heran.
“Cuman sama kamu aku bisa melihat segalanya. Dan cuman sama kamu, keindahan itu bisa kulihat walau nanti mata tak bisa melihatnya dengan langsung, tapi aku masih punya hati yang bisa merasakannya. Senyum dan indah mata kamu aja udah bisa buat aku merasa nyaman Ser. Bisa kamu tepati janji itu suatu saat nanti ?” Ucapku lagi dan kini mulai bergelinang air mata.
“Bisa kok, Win.” Balasnya dan langsung merebahkan kepalanya di bahuku disertai tangannya yang merangkul tanganku.
Berdua kami menatapi sang mentari yang mulai terbenam. Saat pemandangan indah itu usai, saat itu juga aku dan Sernanda memutuskan untuk pulang karna waktu juga sudah lebih dari cukup kami bersama hari itu.
Aku mengantarkannya pulang. Setiba dirumahnya, Sernanda langsung turun dan berdiri dihadapanku sambil tersenyum manis. Beberapa saat belum ada percakapan, hingga Maisha mulai berbisik padaku.
“Makasih untuk hari ini. Aku bahagia banget. Hehehe.” Bisik Sernanda dan langsung masuk kedalam. Aku hanya mampu tersenyum kecil sambil berbisik pula dalam hatiku,
“Makasih juga untuk hari ini. Bahagiaku lebih dari bahagiamu, Ser.”
3 hari kemudian.
Hari pentas seni tiba. Sorenya aku dan teman-temanku bersiap-siap dirumahku. Anehnya saat itu aku mencoba mengirim pesan singkat pada Sernanda, namun tak ada balasan sama sekali. Sesekali ku coba menelpon nomor handphone-nya pun tak di angkat.
Aku menjadi khawatir, tak tenang perasaanku saat aku tak mendapat kabar dari Sernanda, apalagi malam itu adalah malam yang sangat aku tunggu-tunggu. Ya, malam pentas seni.
Akhirnya kami bergegas menuju sekolah. Sesampainya, kami gladi bersih sejenak. Setelah usai, kami bersiap dibelakang panggung. Sorak ramai gembira penonton yang juga siswa-siswi sekolah kami pun terdengan. Ku coba melihat dari belakang tirai panggung pun Sernanda tak kunjung tiba.
“Kamu dimana, Ser ?” Gumamku dalam hati penuh rasa kecewa.
Dengan penuh rasa kecewa, aku dan teman-teman band-ku masuk menuju panggung. Antusias penonton begitu ramai. Sorakan dan tepuk tangan begitu meriah, namun tak bisa menghibur hatiku saat tak ada Sernanda salah satu diantara bangku-bangku itu.
“Edwin semangat !!!” Teriak salah satu penonton dengan suara cempreng yang tak asing bagiku ketika aku mulai memetik gitarku. Lampu sorot bergerak menuju dari mana suara itu berasal.Ya, suara itu adalah suara Sernanda yang berdiri dengan dress putih yang menyelimutinya dengan indah.
Kini aku semangat untuk tampil. Hingga tiba di lagu terakhir. Lagu dari “Christina Perri” a Thousand Years. Saat lagu itu dan tepat dilirik bagian reff terakhir,
“I have died every day, waiting for you, darlin’ don’t be afraid, i have loved you for a thousand years, i’ll love for a thousand more”
Aku bernyanyi sambil menunjuk ke Sernanda. Dan sekali lagi lampu sorot tepat tertuju padanya. Saat usai, aku membalik gitarku. Terdapat sebuah nama dibalik gitarku. Sebuah nama yaitu, “Sernanda”. Penonton bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah. Kulihat Sernanda hanya tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Usai tampil, aku menghampirinya. Memeluknya dengan erat seraya berbisik,
“Aku menyayangimu...”
Saat pentas seni usai. Aku sedang dibelakang panggung beristirahat sejenak. Tak lama sahabatku Rio menghampiriku dengan tergesah-gesah seolah-seolah ada hal buruk terjadi.
“Wing ! Sernanda Wing !” Ucap Rio dari kejauhan. Aku berdiri dengan perasaan tidak nyaman.
“Sernanda kenapa, Yo ?!” Tanyaku khawatir.
“Sernanda kecelakaan pas dijalan pulang tadi ! Sekarang dia dirumah sakit !” Ucapnya lagi dan kini sangat membuatku terkejut.
Tanpa basa-basi, aku bergegas menuju rumah sakit didampingi teman-temanku. Setelah menanyakan dimana kamar Sernanda dirawat, dengan perasaan yang kacau, aku pun mencoba membuka pintu kamar tempat Maisha dirawat.
“Permisi...” Ucapku dengan nada pelan.
“Eh ada temannya Sernanda.” Balas seseorang yang ternyata ibu nya Sernanda.
“Edwin ya ?” Tegurnya dan membuatku heran darimana ibu nya Sernanda mengenaliku.
“Iya tante. Tante tau saya dari mana, ya ?” Tanyaku heran.
“Sernanda sering curhat tentang kamu. Katanya kamu orang pertama yang pernah ajak dia ke bukit gitu. Dia juga pernah liatkan foto kamu ke tante hehehe.” Balasnya dan hanya mampu membuatku bergelinang air mata.
Mata Sernanda saat itu hanya ditutupi perban. Mulai muncul tanda tanya besar dibenakku mengapa mata Sernanda ditutup seperti. Ku dekati sambil memegang erat tangannya dan sesekali mengelus rambutnya.
“Sernanda kenapa, tante ?” Tanya ku.
“Kamu yang sabar ya, Win. Dia sudah pernah cerita semua tentang kamu. Dia bahagia. Seenggaknya sebelum dia nggak bisa melihat lagi, dia pernah melihat kamu. Dia pernah melihat kamu bawa dia ke suatu bukit yang indah sekali buat dia.” Balas ibu nya Sernanda disertai tangisan.
“Sebelum dia nggak bisa melihat lagi ? Maksudnya ? Maksudnya Sernanda...” Ucapku tak percaya kalau saat ini Sernanda telah kehilangan kedua matanya.
“Enggak ! Enggak mungkin tante ! Kenapa bisa begini ?!” Sambungku histeris
Orang tua Sernanda mencoba menenangkanku. Tak bisa ku terima kalau kini Sernanda kehilangan pengelihatannya. Kini aku hanya bisa diam terpuruk menerima takdir.
Tapi aku tak semudah itu menyerah. Aku mencoba menelpon orang tuaku untuk ke rumah sakit sekarang. Setelah usai, aku mencoba untuk mereka memperbolehkanku mendonorkan mataku untuk Sernanda. Awalnya mereka tak mengizinkanku, namun apadaya, ketika aku sudah sangat memohon, akhirnya merekapun mengizinkanku.
Aku menghampiri Sernanda. Ku cium keningnya dengan isak tangis sambil berbisik kecil,
“Mungkin ini tak seberapa. Tapi terimalah. Anggap saja balasan terima kasihku kamu sudah hadir dalam hidupku dan merubah segalanya menjadi begitu indah. Aku cuman minta satu saat ini. Aku harap kamu masih ingat janji kamu ke aku waktu dibukti saat itu.”
Setelah itu, aku memasuki ruang oprasi dan berharap semua ini berjalan dengan lancar. 3 jam oprasi pun berjalan dengan lancar. Kini kedua mataku telah ditutup oleh sebuah perban. Ku dengan suara kecil yang sudah tak asing ditelingaku. Ya, suara itu adalah suara Sernanda.
Aku merasakan ia sedang duduk disebelahku. Dan perlahan perban yang menututpi mataku pun mulai dibuka. Ketika usai, ada hal ganji yang aku rasakan. Mata kananku masih bisa melihat. Hanya mata kiriku saja yang kehilangan penglihatannya. Saat itu aku mulai bertanya-tanya sampai Sernanda pun menegurku.
“Kenapa ? Kamu heran ? Heran saat salah satu mata kamu masih bisa melihat ?” Tegur Sernanda.
“Iya,
Ser. Kok salah satu mataku masih bisa melihat ?” Tanyaku heran.
“Maafin aku ya, Win. Aku nggak bisa terima kedua bola matamu itu. Aku dengar obrolanmu dengan orang tuamu. Jujur saat itu aku nangis. Aku nangis saat tau kamu mau melakukan itu.
“Maafin aku ya, Win. Aku nggak bisa terima kedua bola matamu itu. Aku dengar obrolanmu dengan orang tuamu. Jujur saat itu aku nangis. Aku nangis saat tau kamu mau melakukan itu.
“Sebenarnya aku nggak mau terima keputusanmu untuk kasih kedua bola matamu itu. Tapi aku tau kalau kamu bakal kecewa kalau aku ngga terima pemberianmu itu. Jadi aku putuskan untuk memberi tau dokter yang meng-oprasi kita, kalau aku mau oprasi ini diteruskan asal dengan satu syarat. Cuma mengambil satu bola matamu, enggak dua-duanya.
“Jadi sekarang kita sama. Sama-sama hanya mempunyai satu mata yang bisa melihat. Tapi itu nggak masalah. Seenggaknya aku masih bisa lihat kamu dan kamu masih bisa lihat aku.” Terang Sernanda menghampiriku dan memelukku begitu erat sambil sedikit berucap,
“Aku menyayangimu juga, Win...”
Aku
memeluk Sernanda begitu erat saat itu. Dan suatu hari, ketika aku dan Sernanda
berada dibukit yang kini menjadi favorit
kami berdua, aku memandangi Sernanda dengan penuh kasih sayang. Walaupun salah
satu diantara matanya tak bisa melihat sama halnya diriku, tapi aku tetap bisa
meraskan bahwa mata itu masih sempurna keindahannya.
Senyumnya pun tak berubah. Masih sama sejak awal aku bertemu dengannya. Tiba saat mentari terbenam, aku memeluknya dengan hangat, begitu hangat seolah-olah aku tak ingin melepaskannya. Dan dalam peluk hangatku, aku pun mulai berbisik padanya,
“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah mampu menjadi pena dan membuat cerita indah di kertas yang awalnya kosong ini. Terima kasih pula kamu telah mengubah hidup yang awalnya hanya dihiasi 2 warna yaitu hitam putih menjadi sejuta warna yang kau beri, terlebih oleh senyum dan mata indahmu.
“Aku menyayangimu teramat dalam, Ser. Tak bisa ku pungkiri aku sangat takut kehilanganmu. Percayalah, bahkan saat ombak besar tiba pun tanganku akan tetap memegang erat tanganmu. Saat angin sederas apapun juga aku akan tetap memelukmu dengan erat. Aku hanya mau, saat ajalku tiba nanti, setidaknya aku ada disampingmu, setidaknya aku bisa melihat kamu untuk terakhir kalinya.
“Maafkan mataku yang saat ini melekat dimatamu. Maafkan jika mata itu mungkin tak seindah matamu sebelumnya. Maaf juga hanya mampu membuatmu ingin menerima satu, tidak keduanya. Meskipun aku dan kamu hanya mempunyai satu mata yang mampu melihat, aku tetap percaya bahwa, kedua mata yang berbeda letak ini akan tetap saling mencintai. Kedua mata yang berbeda letak ini akan tetap mampu melihat segalanya yang kita jalani berdua, kisah yang kita ukir berdua, dan masih mampu melihat satu sama lain. Apalagi senyummu yang bisaku lihat, dan sebaliknya, senyumku yang mungkin masih bisa kamu lihat.
“Tak perduli seperti apapun kamu, dan seperti apapun aku, kita yang akan menjalani semuanya. Mulai hari ini, apapun yang terjadi aku akan tetap ada disampingmu. Menjagamu dari segala hal yang mungkin membahayakanmu. Karna aku, karna aku sangat mencintaimu, Ser.”
“Sekarang, biarlah 2 mata ini berjalan seperti hati. Dan kita rasakan sebuah kebahagian kecil yang berasal dari 2 mata, 2 hati dan 1 cinta ini. Aku menyayangimu Sernanda”
Senyumnya pun tak berubah. Masih sama sejak awal aku bertemu dengannya. Tiba saat mentari terbenam, aku memeluknya dengan hangat, begitu hangat seolah-olah aku tak ingin melepaskannya. Dan dalam peluk hangatku, aku pun mulai berbisik padanya,
“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah mampu menjadi pena dan membuat cerita indah di kertas yang awalnya kosong ini. Terima kasih pula kamu telah mengubah hidup yang awalnya hanya dihiasi 2 warna yaitu hitam putih menjadi sejuta warna yang kau beri, terlebih oleh senyum dan mata indahmu.
“Aku menyayangimu teramat dalam, Ser. Tak bisa ku pungkiri aku sangat takut kehilanganmu. Percayalah, bahkan saat ombak besar tiba pun tanganku akan tetap memegang erat tanganmu. Saat angin sederas apapun juga aku akan tetap memelukmu dengan erat. Aku hanya mau, saat ajalku tiba nanti, setidaknya aku ada disampingmu, setidaknya aku bisa melihat kamu untuk terakhir kalinya.
“Maafkan mataku yang saat ini melekat dimatamu. Maafkan jika mata itu mungkin tak seindah matamu sebelumnya. Maaf juga hanya mampu membuatmu ingin menerima satu, tidak keduanya. Meskipun aku dan kamu hanya mempunyai satu mata yang mampu melihat, aku tetap percaya bahwa, kedua mata yang berbeda letak ini akan tetap saling mencintai. Kedua mata yang berbeda letak ini akan tetap mampu melihat segalanya yang kita jalani berdua, kisah yang kita ukir berdua, dan masih mampu melihat satu sama lain. Apalagi senyummu yang bisaku lihat, dan sebaliknya, senyumku yang mungkin masih bisa kamu lihat.
“Tak perduli seperti apapun kamu, dan seperti apapun aku, kita yang akan menjalani semuanya. Mulai hari ini, apapun yang terjadi aku akan tetap ada disampingmu. Menjagamu dari segala hal yang mungkin membahayakanmu. Karna aku, karna aku sangat mencintaimu, Ser.”
“Sekarang, biarlah 2 mata ini berjalan seperti hati. Dan kita rasakan sebuah kebahagian kecil yang berasal dari 2 mata, 2 hati dan 1 cinta ini. Aku menyayangimu Sernanda”
Tamat

Keren po
BalasHapusManisko. Thanks po komen nya
BalasHapus